*Al-Hikam* karya *Syaikh Ibn Atha’illah As-Sakandari* Bab 1. : Tasawuf Tentang Amal , Ikhlas dan Tauhid
Kitab Al-Hikam bukan bab seperti buku biasa, tapi kumpulan hikmah. Bab 1 biasanya membahas fondasi utama tasawuf: *Tentang Amal, Ikhlas, dan Tauhid*. Ini ringkasan 3 Hikmah pertama yang menjadi inti Bab 1:
Hikmah 1: Tanda Bergantung Kepada Amal
> _”Min ‘alamatil i’timadi ‘alal ‘amali nuqshanur raja’i ‘inda wujudiz zalal”_
> *Di antara tanda bahwa seseorang bergantung pada amalnya adalah berkurangnya rasa harap kepada Allah ketika ia tergelincir dalam kesalahan.*
*Ringkasan Makna:*
Ini adalah pukulan pertama bagi salik (pejalan spiritual). Kebanyakan orang merasa dekat dengan Allah karena banyak sholat, puasa, sedekah. Ketika maksiat atau malas ibadah, langsung putus asa, merasa Allah tidak akan ampuni.
Ibn Atha’illah bilang, itu tanda imanmu masih bergantung pada amalmu, bukan pada rahmat Allah. Orang yang benar-benar mengenal Allah (Arif), harapnya tetap besar kepada Allah, baik saat taat maupun saat tergelincir, karena ia tahu yang menyelamatkan bukan amalnya, tapi karunia dan rahmat Allah semata.
Tujuan Bab 1 adalah melepaskan kita dari _ujub_ (bangga amal).
Hikmah 2: Kehendakmu dan Kehendak Allah
> _”Irodatukat tajrid wa irodatuhu iqomah, falaa khair”_
> *Keinginanmu untuk tajrid (melepaskan urusan dunia dan fokus ibadah) padahal Allah masih menempatkanmu di asbab (bekerja/berusaha), dan keinginanmu untuk tetap di asbab padahal Allah menempatkanmu di tajrid, keduanya adalah hawa nafsu yang tersembunyi.*
*Ringkasan Makna:*
Jangan memaksakan maqam (posisi spiritual).
Ada orang yang Allah tempatkan sebagai pedagang, pegawai, ayah yang harus kerja untuk keluarga – itu maqam asbab. Jangan dia tinggalkan semua karena ingin jadi sufi di gunung. Itu nafsu.
Ada orang yang Allah sudah cukupkan rezekinya, Allah tempatkan untuk fokus ilmu dan ibadah (tajrid), jangan dia sibuk cari dunia lagi.
Intinya: Jalani peran yang Allah pilihkan untukmu saat ini dengan sebaik-baiknya. Itulah ibadah terbaikmu. Tanda Allah menempatkanmu di satu posisi adalah kelanggengan dan kemudahan di posisi itu.
Hikmah 3: Tentang Permulaan yang Menentukan Akhir
> _”Sawabiqul himam laa takhriqu aswarol aqdar”_
> *Semangat dan keinginan yang menggebu-gebu tidak akan mampu menembus dinding takdir Allah.*
*Ringkasan Makna:*
Sehebat apapun rencanamu, yang terjadi tetap apa yang Allah takdirkan. Ini bukan mengajarkan malas, tapi mengajarkan untuk tidak stres dan tidak sombong.
Kita wajib berikhtiar sekuat tenaga (himam), tapi hati harus yakin bahwa hasil akhir di tangan Allah. Ini yang melahirkan tawakkal yang benar. Jika berhasil, tidak sombong. Jika gagal, tidak putus asa.
*Kesimpulan Besar Bab 1:*
Bab 1 ini adalah fondasi untuk membersihkan hati dari 3 penyakit utama:
1. *Bergantung pada amal*, bukan pada Allah.
2. *Tidak ridha dengan posisi* yang Allah berikan saat ini.
3. *Merasa bisa mengatur takdir* Allah dengan kekuatan sendiri.
Jika 3 hal ini beres, barulah seorang hamba bisa masuk ke bab-bab selanjutnya tentang ikhlas, sabar, dan ma’rifatullah.
Semua hikmah di Bab 1 mengarah ke satu kalimat kunci: *Laa haula wa laa quwwata illa billah – Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.*
Dibaca: 29
No comments yet.