admin • Agu 11 2026 •

FRIC : Perkuat Kembali Marwah Bhayangkara di Tengah Tantangan ” Polri Lahir dari Rahim Pejuang Sebagai Pelindung, Bukan Sekedar Pelayan Sipil”
_Dari DNA Pejuang Majapahit hingga Tuntutan Reformasi Latihan Polri Masa Kini_
FRIC–
Institusi Polri hari ini berdiri di persimpangan sejarah. Di satu sisi ada warisan “Darah Bhayangkara” yang lahir dari rahim pejuang. Di sisi lain ada realita pahit, pendidikan yang dipangkas, latihan yang kendor, dan wibawa yang terkikis.
Ketua FRIC Provinsi Jambi ” Pertanyaannya kini bagaimana mengembalikan marwah itu tanpa kehilangan sisi humanis. Tiga benang merah menjadi cermin: Sejarah, Realita, dan Solusi.
“DARAH BHAYANGKARA” MEMANG MENGALIR DI TUBUH POLRI.
Jati diri Polri bukan lahir kemarin sore. Akarnya menancap jauh ke masa Nusantara.
Perjalanan itu dimulai era 1300-an bersama Pasukan Bhayangkara Majapahit di bawah Gajah Mada. Tugas utamanya “Jayeng Negara” mengamankan raja dan negara. Etikanya bersumber dari Kitab Sutasoma: _Bhinneka Tunggal Ika_.
Memasuki 1800-an hingga 1943, di era penjajahan, polisi sudah ditempa baris-berbaris, menembak, dan bela diri. Puncaknya saat Tokubetsu Keisatsutai dan Mobrig 1943 dibentuk Jepang. Dari sinilah cikal bakal Brimob lahir.
Paska 1945, DNA tempur itu teruji. Brimob berada di garda depan: dari pertempuran 10 November Surabaya, penumpasan PRRI/PERMESTA, DI/TII, RMS, APRA, hingga pertempuran laut di Fak-Fak Irian Barat. Bahkan ada catatan sejarah Brimob menenggelamkan kapal Malaysia.
Faktanya sederhana Polri lahir dari rahim pejuang, bukan sekadar “pelayan sipil”.
Ketika Kekuatan dan Kasih Sayang Timpang . Ada pepatah Shorinji Kempo yang kini terasa relevan: _”Kekuatan tanpa kasih sayang adalah kezaliman. Kasih sayang tanpa kekuatan adalah kelemahan.”_
20 tahun terakhir, realitanya menantang.Pendidikan diperpendek. Dari 6-8 bulan menjadi 4 bulan. Otomatis materi menjadi singkat, jam terbang bela diri singkat, menguasai menembak menjadi singkat juga, dan medan tugas terpotong. Sehingga dampaknya luas sampai ke anggota di lapangan.
Setelah dilantik, asah kemampuan berhenti. Banyak yang akhirnya “jadi sipil berseragam”. Fisik menurun, skill menurun. Ketika menghadapi Curas, geng motor, hingga demo anarkis, kewalahan pun terjadi.
Kejadian pahit menampar. Ada Polres diserang. Ada anggota ditembak saat menangkap pelaku judi. Ada yang dipukul debt collector. Ada AKBP yang jatuh dan patah kaki karena tak kuat menahan dorongan saat mengamankan demo. dan sebagainya . Fast Respon Indonesia Center inginkan Polri Kuat, melindungi diri dan masyarakat dengan kemampuan yang terlatih .
Jangan sampai kepercayaan publik goyang. Penjahat tidak takut. Masyarakat ragu.
Solusi Kembali Ke Marwah Kuat dan Humanis . Jalan keluarnya tidak muluk-muluk. Intinya kembali ke jati diri.
Ingat Marwah. Polisi bukan hanya “sipil berseragam”. Namun Polisi adalah “pejuang sipil”. Tuntutannya jelas kuat fisik, kuat mental, kuat ilmu. Latihan bukan beban, tapi kehormatan.
Jadikan Latihan Kewajiban. Rumus idealnya: menembak 1x seminggu, bela diri 2x seminggu, lari/medan 3x seminggu. 30 menit setiap hari jauh lebih baik daripada nol. Dan ini berlaku sama untuk Polki maupun Polwan. Dan latihan menguasai beladiri telah dilakukan oleh Polda Jambi dan Polres jajaran, hal ini mengembalikan Power Polisi dan kepercayaan diri dan masyarakat .
Perkuat Kontrol Melekat Pimpinan. Dari Kapolsek ke Wakapolsek, dari Wakapolsek ke Kanit. Yang “elek-elekan” dan mangkir latihan harus ada teguran dan sanksi disiplin, termasuk pemotongan remunerasi. Sebaliknya, yang berprestasi wajib diberi reward.
Seimbangkan. Kuat untuk melumpuhkan penjahat. Humanis untuk menuntun nenek-nenek menyeberang jalan. Dua sisi ini harus jalan bersama. Itulah semangat PRESISI
Polri adalah institusi besar dengan 400 ribu anggota. Satu oknum salah, seluruh korps yang menanggung imbasnya. Satu anggota gugur karena tidak siap, nama “Bhayangkara” ikut tercoreng.
Tulisan ini lahir bukan dari kebencian, tapi dari kecintaan. Marah karena sayang. Mengkritik karena ingin Polri kembali jaya seperti era M. Jassin dan para pendahulu.
Karena pada akhirnya, harga diri dan kehormatan anggota Polri salah satunya ada pada keterlatihan di lintas ilmu.
PEMERINTAH PERLU REGULASI DAN SOLUSI NYATA BAGI TAMBANG EMAS DAN MINYAK DI PROVINSI JAMBI – JA...
FRIC HARAPKAN KAPOLRI BERSIH-BERSIH INTERNAL, JANGAN ADA TERLIBAT ATAU BEKING JARINGAN NARKOBA, R...
FRIC: APRESIASI ERA KAPOLRI SUYUDI TAK KASIH NAFAS DAN RUANG BAGI PEREDARAN NARKOBA Fast Respon Indo...
*PERKUAT STABILITAS NASIONAL: FRIC JALIN KOLABORASI STRATEGIS DENGAN BAINTELKAM POLRI CIPTAKAN KONDU...
Ombudsman RI Ungkap Titik Rawan Maladministrasi yang Berpotensi Korupsi pada Layanan Pertanahan dan ...
FRIC SALUT! KECERDASAN STRATEGIS PRESIDEN PRABOWO – JAUH HARI BACA KRISIS PANGAN & ENERGI ...

Presisi Merdeka Run 2026 Berlangsung Lancar, Kapolda Jambi Ucapkan Terimakasih dan Apresiasi Dukungan Masyarakat JAMBI – Pelaksanaan Presisi M...
Personel Koramil 20/Pante Bidari Laksanakan Karya Bakti di Puskesmas Pante Bidari Aceh Timur – Dalam rangka mendukung terciptanya lingkungan y...
Mengingat Lupa Sejarah TNI dan Polri Polri (Kepolisian Republik Indonesia) berdiri pada tanggal 1 Juli 1946, ketika Pemerintah Indonesia membent...
*Bakti Kesehatan Presisi Polri, Polda Jambi Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis bagi Warga Kasang Pudak* JAMBI – Polda Jambi melalui Rumah Sakit...
Jambi – Kapolda Jambi Irjen Pol. Krisno H. Siregar meninjau langsung pelaksanaan rapat pleno penghitungan suara PSU pemilihan Bupati dan Wakil...

No comments yet.