*TETAP BERTAHAN DIBALIK TAMENG, ADA DOA KELUARGA DAN ORANG TUA*
Ketua DPW Fast Respon Indonesia Center Provinsi Jambi Dody Candra : Ada pemandangan yang tak banyak orang pahami.
Saat sirine meraung, saat massa aksi mulai memadati jalan, saat batu mulai dilempar, saat hujatan dan hinaan mulai diteriakkan ke arah barisan coklat itu… mereka tetap berdiri.(01/11/2026)
*Tetap bertahan dibalik tameng.*
Diam. Tegak. Tidak membalas.
Banyak yang lupa, bahwa *Polisi merupakan garda terdepan dalam menjaga keamanan saat aksi unjuk rasa.*
Mereka bukan berdiri untuk melawan rakyatnya sendiri. Mereka berdiri untuk memastikan aksi unjuk rasa berjalan sesuai aturan yang berlaku. Mereka berdiri untuk menjaga agar fasilitas umum tidak dirusak. Mereka berdiri untuk memastikan tidak ada provokasi yang menyusup dan memecah belah bangsa. Mereka berdiri untuk menjaga Kamtibmas agar tetap kondusif. Bahwa Polisi Bersama dan Mencintai Masyarakat yang taat hukum dan perundang-undangan . FRIC apresiasi pendemo yang sampaikan aspirasi dengan tertib
Tugas yang tidak ringan. Tugas yang penuh risiko.
Namun ada satu hal yang sering dilupakan oleh para pengunjuk rasa yang brutal:
*Polisi juga manusia.*
Dibalik helm baja dan tameng yang mereka pegang erat, ada wajah seorang ayah yang pagi tadi dicium anaknya sebelum berangkat tugas.
Ada doa seorang istri yang tak henti-hentinya memohon agar suaminya pulang dengan selamat.
*Ada doa anak, istri dan orang tua yang menyertai saat mereka bertugas.*
Mereka juga punya keluarga yang menunggu di rumah dengan rasa cemas, menatap layar televisi, khawatir melihat suami, ayah, anak, saudara mereka berada di garis depan berhadapan dengan amarah massa.
Lantas, apakah *aksi brutal para pengunjuk rasa yang melakukan penyerangan, hujatan dan hinaan kepada Polisi adalah hal yang terpuji?*
Tentu tidak.
Unjuk rasa adalah hak setiap warga negara yang dijamin Undang-Undang. Silahkan sampaikan aspirasi. Silahkan bersuara lantang. Negara demokrasi membuka ruang itu selebar-lebarnya.
Namun ingat, *aksi unjuk rasa diperbolehkan sesuai aturan yang berlaku, hindari provokasi, bersama jaga Kamtibmas.*
Jangan nodai hak mulia untuk berdemokrasi dengan anarkis. Jangan hancurkan fasilitas umum yang dibangun dari pajak rakyat sendiri. Jangan lempar petugas yang sejatinya adalah saudaramu sendiri yang sedang menjalankan tugas negara.
*Dilihat betapa lelahnya Polisi saat pengamanan dan menjaga fasilitas umum…*
Berdiri berjam-jam di bawah terik matahari. Kehujanan. Tidak makan tepat waktu. Menahan haus dan lelah. Menahan emosi saat dihina dan diprovokasi.
Pernahkah *terpikirkan oleh kita semua jika yang bertugas di balik tameng itu adalah ayah maupun saudara kita?*
Jika yang dihujat itu adalah ayahmu yang setiap pagi mengantarmu sekolah?
Jika yang dilempari batu itu adalah kakakmu yang selama ini menjadi tulang punggung keluargamu?
Jika yang dicaci maki itu adalah suamimu yang doanya selalu menyertaimu?
Tentu hati kita akan hancur.
Maka hari ini, mari kita belajar untuk lebih berempati.
Hargai Polisi yang tetap sabar dan humanis. Hargai mereka yang tetap bertahan dibalik tameng meski lelah tak terkira.
Karena dibalik tameng itu, bukan hanya ada seorang Polisi.
*Dibalik tameng itu, ada doa keluarga dan orang tua yang selalu menyertai.*
Mari jaga Jambi tetap damai.
Mari sampaikan aspirasi dengan santun dan bermartabat.
Mari bersama Polri kita jaga Kamtibmas.
*Karena Polisi adalah kita, dan kita adalah Polisi – sama-sama anak bangsa yang mencintai negeri ini.*
*FAST RESPON INDONESIA CENTER (FRIC) PROVINSI JAMBI*
*MENDUKUNG POLRI YANG HUMANIS & PRESISI*
*POLISI JUGA MANUSIA – ADA KELUARGA YANG MENUNGGU DI RUMAH” . Mari sampaikan aspirasi dengan elegan bukan dengan anarkis , bersama menjaga persatuan dan kesatuan serta situasi Kamtibmas ” pungkas Dody
Dibaca: 21
No comments yet.